Malang, 12 okt 2010. Langit mendung, awalnya. Walau akhirnya mentari yang tenang kembali tegak di peraduannya. Kuliah studi qurโ€™an lalu studi hadits membuat saya tenang dan nyaman karna disamping bukan hal baru, para dosen disini mampu membuat setiap mahasiswa menjadi lebih atraktif.

Saya sedang di mesjid tarbiyah. Masih ingat kan kawan? Ketika sedang merapikan laporan praktikum rangkaian digital yang belum diklip (distaples, dihekter ๐Ÿ™‚ ), angin tiba โ€“ tiba berhembus kencang dan melempar lembaran โ€“ lembaran laporan. Ada uluran tangan yang membantu. Saya melihatnya, saya tak mengenalnya. Namun, saya berterima kasih padanya. Kami sedikit berbincang setelah itu. Dan kawan, ternyata bapak berparas tenang yang kutemui ini, punya cerita berat dan sedih yang sedang diujikan Allah Azza wa jalla padanya.

Based on his story, sekarang ia sedang dalam pencarian. Buah hati yang disayanginya putus komunikasi dengannya. Dengan kepala tegak seakan mengangkat semua keluh kesahnya, ia menceritakan keluhan kepahitan yang menimpanya itu pada saya. Saya terharu kawan, tersentuh dengan realita yang kini dihadapinya. Rasa syukur akan apa yang ada pada diri sekarang menguasai saya. Kawan, saya orang yang gampang terenyuh dengan kesedihan.

Azan yang indah itu berkumandang, setelah solat dzuhur, saya duduk khidmad menyimak ceramah harian yang rutin di mesjid tarbiyah UIN Maliki ini. Saya agak terhibur, namun mengena banget kawan! Sang khotib berkisah tentang perbedaan kita dengan Nabi yang hanya ‘sedikit’. Ya kawan, hanya dengan satu kata ‘sedikit’ itu, perbedaan yang besar telah tercipta.

Mau tahu maksud dibaliknya??

Gampang saja nih, kalau Nabi SAW itu sedikit makan, kita mah sedikit-sedikit makan. Kalau Nabi dulu sedikit tidur, kita sedikit-sedikit tidur. Hehehe, nyeletuk dan hidup banget suasana mesjid kala itu. Namun saya juga merasa tersentuh kawan. Tauladan terasa jauh dari pribadi saya.

Malamnya, dingin memang. Besok presentasi mata kuliah aljabar linier. Saya dan rekan sekelompok sibuk mengotak-atik rumus demi rumus yang akan dibahas besok. Banyak hal baru yang saya temukan kawan. Memang hal yang baik selalu dihiasi dengan hal-hal baik juga. Kawan, sejak saya pertama kali di rumah baru ini, saya ingin banget bisa mangulangi hal-hal indah bersama teman-teman pondok dulu. Dan, saya mendapatkannya kawan. Hari ini satu keakraban yang selama ini kaku dan keras itu, kini mencair dan hangat, sangat hangat. Langkah yang baik untuk hari yang baik. Kawan, doakan semoga esok presentasi saya lancar ya!!

melangkahlah ‘tuk hari esok!