Malang, 2 Februari 2011. Kairo sebagai salah satu pusat peradaban dunia kini memanas. Berjuta orang keluar rumah meneriakkan kata-kata pembawa revolusi. Setiap individu hidup dalam penantian yang tak tentu. Kapankah ini berakhir dengan senyuman? Sebuah pertanyaan miris yang belum bisa dijawab beberapa hari ke depan

Seorang sahabat di negara piramida ini bercerita singkat tentang keadaan internal. Mulai dari jaringan telepon kabel dan nirkabel yang diputus. Dilanjutkan dengan jaringan internet dari berbagi provider terkemuka Mesir yang ikut-ikutan putus. Berbagai ATM pun ‘hilang daya’ seiring dengan hilangnya fasilitas dan infrastruktur umum dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sangat sulit untuk menemukan tempat aman terutama di Kairo itu sendiri. Berjuta orang dengan aksi yang sporatis kian berani. Semakin hari jumlah orang semakin bertambah dan terus bertambah seiring datangnya orang-orang yang berdomisili di sekitar Kairo menuju Kairo.

Gerakan demonstran dimulai Rabu, 26 Januari silam. Dengan satu komando membawa 4 tuntutan pokok:

  1. Akhiri kekuasaan 30 tahun Presiden Hosni Mubarok
  2. Turunkan Perdana menteri Ahmed Nazif
  3. Pembubaran parlemen
  4. Pembentukan pemerintah bersatu

Diawali dengan gerakan para aktivis Mesir yang mengajak segenap masyarakat Mesir untuk bergerak. Melawan kemiskinan, pengangguran dan korupsi pemerintah. Hari yang seharusnya menjadi ‘hari libur nasional’ itu pun berubah menjadi ‘hari kemarahan’. Pemerintah kalut dan diketahui beberapa hari setelah itu 19 pesawat yang berisi orang-orang kaya menyelamatkan diri keluar Mesir.

Tidak berhenti sampai disitu, gejolak kembali mengaung keras setelah militer mengambil alih stabilitas negara. Demonstran yang merupakan rakyat Mesir yang datang dari berbagai penjuru itu mesti berhadapan dengan tank-tank besi dan gas air mata yang dihadiahkan militer.

Tahrir square pun mendidih di setiap harinya…

Kerusuhan meluas di Alexandria, kota Mansura di Delta Nil, Tanta dan di kota-kota selatan Aswan dan Assiut. Pada kerusuhan awal tiga pengunjuk rasa dan seorang perwira polisi telah tewas. protes terus di beberapa kota. Ratusan orang telah ditangkap, tetapi para pengunjuk rasa mengatakan mereka tidak akan menyerah sampai permintaan mereka terpenuhi. Kekerasan juga meletus di kota Suez , sementara di daerah Sinai utara, tepatnya di kawasan Sheikh Zuweid, suku Badui dan polisi terlibat aksi saling menembak, menewaskan seorang remaja berusia 17 tahun. Hal yang sama juga terjadi di Ismailia.

Tuntutan dan aksi yang dikatakan terilhami oleh demonstrasi yang berhasil menjatuhkan presiden tunisia itu terus dicoba dibubarkan oleh pemerintah. Sekitar 250 orang terluka, termasuk 85 polisi, setelah polisi antihuru hara menembakkan gas air mata. Citra kepolisian di Mesir terus merosot, sementara rakyat masih menghargai pasukan militer. Para pejabat keamanan menyebutkan hampir 1000 pemrotes ditahan. Pada tanggal 28 Januari internet dan SMS di Mesir mati, layanan jejaring sosial Facebook dan Twitter terganggu. – (Internasional Kompas)

Kenapa gelombang protes bergulir dikawasan tersebut? Rakyat disini menginginkan sebuah perubahan untuk melawan kemiskinan, pengangguran dan korupsi pemerintah.

Demonstran ternyata tidak mampu diatasi oleh aparat kepolisian. Panser-panser pasukan keamanan telah diserbu dan dibakar oleh massa. Presiden Mubarak nampaknya belum berhasil mengatasi aksi keras demo yang terjadi. Dalam pidato di televisi, Mubarak berjanji akan melaksanakan reformasi politik dan ekonomi. Ia juga memerintahkan Kabinetnya mengundurkan diri dan berjanji untuk mengangkat Kabinet baru.

Namun, bencana ini belum reda juga, sejalan dengan belum terealisasinya sebuah ‘revolusi

Sebelum hal yang rakyat Mesir kehendaki belum tercapai, akan ada darah yang tumpah, kawan

Mesirku mulai kering,

Semoga kekeringan ini nanti, kan berakhir diguyur hujan kemakmuran dan perdamaian

Agar nil ku dapat mengalir kembali, membawa peradaban

berlarilah ‘tuk hari esok!

coutessy of : http://internasional.kompas.com/