Page 3 of 3

Melihat Hujan Dari Gedung Fak. Saintek

Malang, 9 okt 2010. Hujan, benar kawan. Hujan adalah titik-titik air yang turun dari atmosfer akibat evaporasi air yang mengumpul membentuk senyawa baru-yang lebih familiar kita sebut awan, turun ke bumi akibat perbedaan tekanan udara. Kalau engkau punya depenisi seperti itu, saya yakin engkau orang yang menyenangkan.

Kota Malang sore ini hujan, sangat dingin. Akibatnya saya dan mereka, orang-orang yang bersama saya di gedung fakultas Saintek ini menggerutukkan gigi. Beberapa dari kami memang tidak memakai baju tebal karena selain tidak menyangka, kebetulan dua jaket yang saya bawa ke Kota ini dari Medan juga pas kotor semua. Jadilah hari itu saya menderita. Kenapa saya ada di Gedung Saintek sekarang? Pertanyaan yang bagus. Akan kujelaskan untukmu kawan.
Continue reading

Setitik Jurnalistik Kampus

Jum’at, 8 Oktober 2010. Hari ini dibuka cerah dan indah. Tak ada yang sebegitu aneh hingga saat jarum jam menunjukkan pukul 9, ada jam kuliah. Sebenarnya mata masih nyut-nyut senat-senut. Namun kawan, ada kalanya kita perlu merenungi makna harfiah mahasiswa. Itu adalah kata sakti yang memiliki atribut tanggung jawab yang sangat besar. Siswa saja dituntut buat tahu segala macam hal secara spesialis ataupun generalis. Lha, sekarang di grade mahasiswa. Ada satu anak tangga yang mau tidak mau harus diinjak, yakni memahami ilmu atau bidang ilmu yang digeluti dalam ruang lingkup seorang analis. Bukan hanya memahami. Continue reading

Netbook untuk sahabat

Kamis, 7 Oktober 2010. Banyak kejadian bagus  hari ini. Di cuaca Kota Malang yang serba GeJe (Gag Jelas), beribu warna dapat saja terspektrum indah. Merah penantian, hijau kebanggaan, putih kesepian, hitam kekecewaan. Kawan, hari ini saya mendapat spektrum warna yang saya senangi, violet cerah kebahagiaan 🙂 Continue reading

Dieng Plaza’s mission


Rabu, 06 Oktober 2010
. Hari ini cerah. Cocok untuk berkendaraan. Sebab saking cerahnya, ubun-ubun ini panas kalau berjalan di bawah terik si matahari. Ya kawan, kepanasan.

Mata kuliah hari ini menyenangkan dan melegakan. Siapa bilang kuliah itu tidak asyik?! Kalau kalian berfikir begitu kawan, insya Allah bakal jadi kenyatan. Coba deh! 🙂
Siang ini sebenernya saya ingin tidur pules meluruskan tulangsaking pegalnya memutar-mutar otak efek samping aljabar linier dan matriks. Namun, Allah mengutusku untuk membantu seorang anak manusia yang
membutuhkan bantuan. Dengan dopping nasi lalapan ikan bandeng plus es teh, ikhlas pun insya Allah siap menunaikan tugas itu. Continue reading

Rangkaian digital; rangkaian jembatan

Selasa, 5 Oktober 2010. Banyak hal menarik hari ini. Dari mulai saat studi qur’an tadi suasana kelas sangat hidup hingga kelelahan sehabis praktikum rangkaian digital.

Kali ini saya sedikit membahas tentang esensi mata kuliah yang menurut saya ‘baru’ ada di semester 3 ini. Dikatakan ‘baru’ ya karena mata kuliah ini baru loh, kawan. Beberapa mata kuliah lain saya ketahui sebagai pengasah keahlian di bidang analisa atau oprakoprek coding dari sisi software. Namun, di dunia rangkaian digital ini saya sedikit ‘bebas’ atau ‘dibebaskan’ dari pergulatan coding dan coding. Senang?! Ya, tentu saja senang. Tapi saya lebih suka mengartikan ini sebagai angin segar.

Benarkah?! Saya berkata demikian karena dunia rangkai merangkai perangkat elektronik yang sangat sarat dengan kelistrikan ini aslinya baru dipelajari mulai semester 3. Semester 1 & 2, dapat saya berkesimpulan begini,
“Semester 1 & 2 itu semester yang codiing banget !” Continue reading

Menentukan Prioritas

Senin, 4 Oktober 2010. Seperti biasa wacana anak kuliah, sibuk tugas euy! Salah-salah lihat tanggal bisa-bisa lewat tuh deadline. Jurusan saya juga tidak kalah garang dalam pemberian tugas. Beragam mulai dari yang teori ampe praktik semua berjubel di otak buru-buru menuntut segera dikerjakan.

Tidak jarang gara-gara berbagai alasan yang tidak penting, malah tidak tersentuh si tugas. Kalau sudah seperti begitu seribu satu macam cara bakal ditempuh mahasiswa deh buat menggapai ‘titik aman’. Mulai dari copy paste sana-sini atau pura-pura sakit supaya dapat waktu tambahan (istilahnya waktu kasihan) dari sang dosen. Wah wah, kalau sudah begini kan repot. Kalau terus-terusan malah berpeluang ketahuan kan?! Sudah deh menyerah saja. Kebiasaan kayak begini memang tidak asyik 🙁

Menghadapi hal seperti ini sebenarnya ada saja ilmunya. Saya pernah membaca sebuah artikel, yang saya baca sewaktu berada di pesawat. Kebetulan maskapai penerbangan lion air yang saya tumpangi menyediakan majalah buat dibaca. Karena bosan juga saya buka halaman demi halaman. Berhenti di beberapa spot yang saya suka seperti seputar keindahan alam Indonesia hingga profil pramugari teladan yang geulis. Saya berhenti pada suatu artikel yang berjudul ‘Menentukan Prioritas’. Di headernya juga tertulis kutipan perkataan seorang bule yang saya lupa namanya, ‘di dunia ini tidak ada orang yang bodoh, yang ada sederhana saja, orang yang tidak bisa menentukan prioritas’.

Saya renungi halus, kata-kata ini sangat mengena. Selama ini tidak jarang juga saya berhadapan dengan situasi genting kayak diatas tadi. Dapat ditebak kalau terus menerus terperangkap seperti itu saya tidak akan pernah maju, pasti tertinggal, kawan!

Coba kita rangkai lagi masalahnya, kalau kita tidak mengerjakan tugas di selang hari yang kita punya, pasti ada hal lain yang kita kerjakan. Apa itu? Makan?! Tidur?! Jalan-jalan?! Benar! Kita memprioritaskan yang enak-enak dan mengesampingkan yang benar-benar penting seperti tugas contohnya. Sehingga mau tidak mau harus mengambil ‘SKS’ di malam sebelum waktu ngumpulin tugas. Tidak asyik kan pastinya begadang gara-gara tugas. Jauh lebih enakan begadang sambil nonton tv plus ada cemilan disampingnya kan ya.

Ayo kawan, cepatlah ambil tongkat kesadaran kita dan mulai menata prioritas hidup kita, mulai yang jangka pendek hingga jangka panjang nanti. Prioritaskanlah hal-hal yang menjanjikan kemajuan terlebih dahulu. Tempatkan ia sebagai hal yang harus kita kejar sekuat-kuatnya. Ikhtiar bahasa kerennya. Sampingkan semua kepentingan lain yang dianggap hanya sebagai ‘sampingan’ semata. Sedikit-demi sedikit, pasti kita bisa beberapa langkah lebih maju dari hari-hari yang lalu.

Selamat mencoba !!

Melangkahlah ‘tuk hari esok!

Berani Introspeksi Diri, Kawan!

Malang, 12 Januari 2010. Hari ini, Temen-temen FKMM ( Forum Komunikasi Mahasiswa Sumut ), mengadakan pertemuan singkat. Acara resminya sih, kajian seputar masalah kehidupan. Kali ini mengangkat tema “introspeksi diri”. Acara yang harusnya diisi banyak tanggapan sana sini itu, terasa kok ‘khidmat’ sekali ya?! Eits…khidmat disini jangan diartikan terlalu positif, sebenar-benarnya, acara ini sedikit kurang aktif 🙂

Yang menghadiri acara yang tidak terlalu jelas waktunya ini, hanya beberapa manusia Medan(sebutan umum bagi putra daerah Sumatera Utara di Malang). Duh, jujur saya prihatin, namun jujur juga saya belum tahu harus berbuat apa. Hal yang pada dasarnya dapat mempersatukan kami malah terasa janggal sekali. Saya dan teman-teman FKMM bukanlah orang yang sudah kenal dari awal. Kami berasal dari daerah yang kata Chikita Maidy, “kampuang nan jauah di mato”. Saya harus sangat ekstra hati-hati menjaga hubungan baik antara kami. Namun ya tuh dia, persatuan kami seakan sangat sulit disatukan. Saya prihatin, kawan. Sungguh prihatin. Continue reading

Rahasia Catur

Malang, 12 Januari 2010. Mungkin banyak orang yang tahu dan berharap jadi ahli permainan catur. Bahkan ada beberapa orang yang sudah digelari ‘the master’. Mereka dapat dengan gampangnya saja memvonis skak! pada lawan. Beragam software computer berlomba membuat aplikasi virtual catur yang baik dan benar. Papan catur bukan hal asing bagi kita. Dari kedai kopi sampai kedai-kedaian meng’instal’ papan catur sebagai salah satu fasilitas tambahan untuk menambah tingkat kebetahan konsumen.

Hari itu saya sangat lelah. Sehabis mata kuliah ‘matematika dasar’, otak menjadi overheat. Jadi begitulah, meskipun jarum jam menunjukkan pukul 11.15, bukannya berbelok ke mesjid namun malah menuju asrama untuk sekedar rebahan sebentar. Niatnya sebentar 🙂
Plek… Saya tertidur dan terbangun ketika jama’ah selesai shalat zuhur. Kebiasaan masjid kampus adalah tausiah selesai sholat. Terdengar samar dari loud speaker yang memang suaranya sangat nyaring di lingkungan asrama. Pentausiah kala itu -yang saya tidak tahu siapa- mengambil catur sebagai temanya. Saya masih dalam keadaan belum stabil karena masih baru aja bangun. Namun karena temanya agak unik. Saya tertarik menyimaknya. Continue reading

© 2018 Reza Perdana

Theme by Anders NorénUp ↑