Banda Aceh dan Startup, Jodohkah?

Awalnya saya kira ini merupakan sebuah pertemuan antara startup dengan calon klien (saya) yang isinya penawaran produk sekaligus pengenalan visi misi startup tersebut berikut profil SWOT (Strengths Weaknesses Opportunities Threats). Diskusi awalnya berawal dari sana namun perlahan namun pasti melebar ke topik yang sesungguhnya sangat menarik bagi saya, yakni eksistensi startup di bumi Aceh

Rabu, 6 Februari 2019. Diawali dengan sejuknya mentari pagi di Aceh, tepatnya di Banda Aceh, kota kedua paling ujung di barat Indonesia (Kota Sabang lah yang menjadi kota paling ujung di barat CMIIW). Tergerak lagi untuk memulai blog yang sudah lumayan lama ditinggal ini. Kebiasaan baik yang sudah terlalu lama dilupakan (dicuekin) namun ternyata memang kebiasaan baik ini mau tidak mau harus dipaksakan. Menulis tetap harus menjadi kebiasaan baik yang harus dipertahankan. Untuk apa? simpelnya menurut saya, karena dokumentasi kehidupan adalah hal yang penting. Ada yang mendokumentasikannya dengan postingan di Instagram, membuat video lalu share ke Youtube atau menulis di blog seperti saya? Atau, why not both! (dalam waktu dekat 🙂 )

Kemarin saya mendapat invitasi dari seseorang, beliau adalah salah satu penggiat startup di Banda Aceh. Perkenalan kami diawali dari seorang teman yang kebetulan adalah teman kerja juga. Singkatnya sore itu kami bertemu di Le general, sebuah warung kopi (baca:kafe) yang berlokasi di daerah simpang 5 Banda Aceh. Beliau datang bersama seorang rekannya. Jadilah kami bertiga memulai perkenalan dan pengakraban layaknya professional yang sedang sharing sekaligus menjajaki peluang yang dapat dimaksimalkan bersama. Sekilas terlihat pertemuan tersebut adalah pertemuan antara CEO, CTO dan calon klien 🙂

Awalnya saya kira ini merupakan sebuah pertemuan antara startup dengan calon klien (saya) yang isinya penawaran produk sekaligus pengenalan visi misi startup tersebut berikut profil SWOT (Strengths Weaknesses Opportunities Threats). Diskusi awalnya berawal dari sana namun perlahan namun pasti melebar ke topik yang sesungguhnya sangat menarik bagi saya, yakni eksistensi startup di bumi Aceh

Eksistensi startup di Indonesia sudah sangat masiv terutama di pulau Jawa, namun di Sumatera terlihat masih ‘senyap’. Bahkan di Kota Medan sendiri yang notabene kota besar, keberadaan startup masih belum bisa dikatakan dominan jika dibandingkan eksistensinya di kota besar di jawa layaknya Jakarta dan Surabaya yang benar-benar sudah sangat mendominasi.

Diskusi kami merambah kepada background profesi dan keilmuan masing-masing, beliau dan rekannya merupakan karyawan tetap pada sebuah Bank BUMN Cabang Banda Aceh bagian TSI dan rekan beliau tersebut baru saja resign untuk mengambil langkah membesarkan startup. Sebuah keputusan berani yang saya kagumi, sekaligus menimbulkan pertanyaan seberapa besar sebenarnya potensi perkembangan startup di Banda Aceh ini?

Kekuatan sebuah startup dimulai dari visi yang baik, itulah yang beliau jelaskan kepada saya. Project yang didapatkan oleh beliau bukanlah project kaleng-kaleng, terhitung Samsat Aceh mempercayakan startup beliau untuk berkoordinasi membuat sebuah aplikasi yang mengintegrasikan data pembayaran Samsat dan sebuah sistem panic button untuk monitoring keamanan. Selain itu startup tersebut juga sudah menghasilkan beberapa produk seperti aplikasi POS (Point Of Sales) yang sudah digunakan pada beberapa kafe di Banda Aceh dan juga dalam waktu dekat akan merilis aplikasi daily deal seperti layaknya dealjava (dealmedan) yang dalam beberapa waktu ke depan akan memulai kiprahnya secara lokal di Banda Aceh. Sebuah pencapaian yang ternyata diluar ekspektasi saya. Startup di Banda Aceh sudah mampu memaksimalkan talent lokal untuk berfikir layaknya startup berskala nasional.

Tentunya startup harus terus bergerak untuk mampu terus produktif dan melahirkan inovasi. Beliau menjelaskan bahwa startup ini akan mencoba membangun sistem pada lingkup Perbankan. Lagi lagi ini sebuah langkah yang strategis. Setelah selama ini saya hanya mengenal startup dan vendor yang berasal dari pulau Jawa, kini startup asal Banda Aceh pun bisa mencoba menawarkan sesuatu yang baru.

Diskusi yang intens itu diakhiri dengan makan malam yang ceria karena sharing session berjalan 2 arah. Beliau mendapat informasi opportunities yang dapat difokuskan dan saya juga mendapatkan informasi riil tentang bagaimana sesungguhnya langkah startup di Banda Aceh ini. Perlahan tapi pasti startup sudah menjadi pilihan karir bagi pemuda pemudi di Banda Aceh. Tantangan selanjutnya bagi startup setidaknya adalah sebagai berikut:

  • Startup dapat merekrut talent lokal yang potensial
  • Meraih kepercayaan dari klien ditengah banyaknya vendor diluar Aceh yang masuk
  • Menjalin relasi yang baik dengan stakeholder baik dari korporasi maupun pemerintah. Karena keduanya adalah klien yang potensial

Jadi apakah startup dan Banda Aceh berjodoh? Menurut saya keduanya sudah berjodoh sejak lama dan harmonis. Namun dikarenakan masih malu-malu, sehingga banyak orang merasa ini adalah ‘perjodohan yang dipaksakan’. Mudah mudahan ke depan Banda Aceh mampu melahirkan startup startup baru yang dapat menjadi lapangan kerja dan penggerak kemajuan Banda Aceh, dan juga untuk Aceh dan Indonesia. Aamiin

Melangkahlah tuk hari esok!

2 Comments

sip stuju that nyan. Lon na rencana nak peugot Startup di banda aceh. dipat na event event diskusi startup di banda aceh ? 085315219764

Nyan masalah jih Bang Muammar. Startup tanyoe terkesan mantong ‘malu-malu’ tapi skill jih kah jeut bersaing. Mudah mudahan jeut tanyoe saling bantu demi menggalakkan startup di bumi Aceh In syaa Allah 🙂

Leave a Reply, Thanks!

%d bloggers like this: