Sopir Angkot Dan Nenek Berkeranjang

Ahad, 11 april 2010. Seharusnya saya sadar lebih awal, hari ini ada pertemuan, atau lebih tepatnya reuni Young Action Entrepreneur, tempat dimana saya mati-matian dipress untuk menjadi seorang entrepreneur, dimulai pukul 13.00. Kawan, akibat bergadang akibat bergulat dengan tugas malamnya. Saya tidak sadar ketiduran menjelang pukul 10. Akibatnya begini akan saya jelaskan. Tempat berkumpul nanti ada di kantor GS di Ruko Kendalsari Barat, lurusan jalan soekarno-hatta. Saya biasa berjalan kaki saja, karena tak begitu jauh, namun tak begitu dekat juga. Karena dasarnya perlu 45 – 55 menit juga buat sampai disana. Saya terbangun tepat pukul setengah satu lewat lima belas. Sempurna, setelah mandi ajaib, saya langsung tidak melihat kanan kiri lagi. Ketik beberapa baris sms, lalu send… terkirim. Intinya saya mengabarkan keterlambatan. Semoga semua menerima alasan konyol keterlambatan ini.

Mau-mau tapi malu, akhirnya saya naik angkot. Yang saya sebelin, karena jaraknya yang tidak begitu jauh tadi, saya harus menyambung angkot. Tarif angkot disini Rp 2500, dikali 2. Rp 5000 mesti saya keluarkan. Maklumlah mahasiswa, saya jauh lebih suka memilih jalan menyusuri Universitas Brawijaya itu berpanas-panasan. Terserah kalau ada yang bilang pelit, temen-temen yang mendengar pilihan itu sering menggeleng-geleng sendiri. Biarlah… Kawan, mereka belum tahu sedang berhadapan dengan hiker sejati yang pelit.

Lihat langkahku… menaiki angkot AL. Sampai ke ujung jalan gajayana saya turun dan harus nyambung angkot selanjutnya. Saya rogoh kocek agak dalam, baguslah masih ada Rp 5000. Pulangnya bisa jalan saja. Matakmenerawang melintasi jalan yang tidak begitu besar disekitar. Ada banyak kendaraan melintas silih berganti. Malang memang sangat sibuk hari minggu, sayatak tahu mengapa. Sedari dulu pernah saya tebak bahwa yang maramaikan itu tak lain dan tak bukan adalah mahasiswa beragam perguruan tinggi yang memang banyak sekali di kota pelajar ini. Hari ahad adalah satu-satunya, atau dua-duanya selain sabtu, hari dimana para pelajar dari berbagai belahan dunia itu tumpah ruah di jalan. Mencari berbagai hiburan ringan karena ingin terlepas dari jerat lelah beragam tugas kuliah yang menghantui. Saya cukup faham hal itu. Jangan lupakan 1 hal kawan, saya adalah mahasiswa sebuah PTN juga.

Dari jauh, angkot kedua datang, LDG. Saya menyerah, harusnya agar langsung sampai di mulut gang tujuan, alternatif terbaik adalah ADL atau JPK. Namun apalah artinya, berjalan sedikit lagi juga tidak masalah. Sebelum naik, dipastikan uang di kantong belum terbang tanpa sepengetahuan seperti kasus di Medan dulu, kapan-kapan akan saya ceritakan peristiwa itu kawan. Sip, goceng masih stand by di kantong, tanpa ragu saya naiki angkot yang Cuma berisi 5 orang itu. Pak sopir, saya, nenek-nenek yang membawa keranjang besar, gadis yang sepertinya mahasiswi dan sepertinya temannya mahasiswi juga.

Angkot LDG itu berjalan pelan, sesekali berhenti untuk menunggu penumpang mencarinya. Tapi sulit memang, hari ahad begini, banyak yang memilih jalan-jalan bersepeda motor ria. Tentunya tak terkecuali saya, sayangnya belum ada sepeda motor yang berSTNKkan nama saya.

Tak lama, kedua mahasiswi itu turun di depan sebuah warnet. Saya tebak mungkin mereka ingin mencari tugas sekaligus kebelet membuka facebook yang sudah lama tak dilogin, hanya sebuah perkiraan loh. Tak lama berselang, nenek itu berbicara singkat dengan sopir. Intinya, beliau meminta diturunkan di sebuah tempat. Sopir itu dengan ramah melayani permintaan nenek itu.

“Ckiiit…”, angkot mengerem berhenti. Pak sopir kemudian turun dan meminta saya untuk menunggu sebentar, saya mengiyakan. Nenek itupun mulai menuruni angkot. Namun keranjangnya yang besar itu sepertinya tak sanggup beliau memindahkannya sendiri. Spontan, sopir kemudian membantu menurunkannya, akupun turut membantu yang satunya.
“Mas, enteni yo (tunggu sebentar ya)”, setelah membantu menurunkan keranjang tadi. Saya disuruh menunggu saja di angkot. Saya lihat kemudian dengan sigap tanpa dikomando dengan penuh kesadaran, sopir itu menyeberangkan nenek itu sekaligus dengan kedua keranjangnya yang saya tahu tidak ringan. Bukan hanya itu, setelah sampai diseberang, iapun mencarikan ojek yang kiranya dapat dipakai untuk mengantarkan si nenek sampai ke tujuannya, agak lama memang. Lalu, setelah ada, dari angkot saya lihat nenek itu berterima kasih dan pak sopir itu menyalami hormat.
Pak sopir kembali ke angkot. Saya tersenyum sedikit, sekilas gurat lelahnya sangat tampak, namun ia dengan ikhlas membantu orang tua yang baru dikenalnya tadi itu. Sungguh betul-betul merasa malu sebagai anak muda yang terburu-buru tadi. Saya kalah tanggap. Saya sadar, di kota ini penghargaan kepada orang yang lebih tua sangat tinggi hingga walau dalam keadaan sepenat apapun, sopir tadi dengan segala kerelaan tanpa pamrih akan membantu kesulitan para penumpangnya. Kawan, yang saya tahu pun, para sopi di Kota Malang ini jarang sekali mengeluh apalagi sampai mengucapkan kata-kata kurang etis yang acapkali diidentikkan dengan para orang jalanan termasuk para sopir.

Saya rasa banyak yang bisa kita ambil dari sini, diantaranya yang paling penting adalah kesadaran dan kerelaan dalam berbuat baik. Saya berjanji, dan tentunya untuk kawan-kawan juga, akan selalu berusaha menanamkan kebaikan dimanapun dan kapanpun kesempatan untuk itu ada. Bukankah ini sejalan dengan hadits nabi yang menyuruh kita untuk mempergauli manusia lain dengan akhlak yang baik. Semoga tetap senantiasa kita diberi kekuatan, amin…

Akhirnya, sampai juga ke tempat pertemuan. Reuni belum dapat seperti yang dibayangkan karena banyak yang tidak dapat hadir. Mudah-mudahan selanjutnya dapat lebih baik, amin.

Fuuuh… Sepertinya, angin siang ini dingin…lebih dingin dari peristiwa yang saya alami tadi, begitu kata biru.
Melangkahlah ‘tuk hari esok!
***
Inspirasi :
-. Peristiwa pribadi ahad, 11 april 2010

3 Comments

Leave a Reply, Thanks!

%d bloggers like this: